Share This Article:

Pengantar.

Halo semuanya, kembali lagi dengan penulis disini, setelah membahas keunikan kota Manado, kali ini penulis ingin menulis hal-hal lain yang dimiliki oleh kota Manado, untuk pembahasan kali ini penulis ingin fokus ke kuliner kota Manado, namun pernahkan kalian terpikir apa filosofi rasa dari masakan Manado memiliki rasa yang pedas di lidah?, pembahasan singkat ini sebelumnya sudah dibahas oleh penulis kami sebelumnya, sekarang mari kita ulik lebih dalam, yuk kita bahas.

1. Opini Pertama

Sebut saja sambal roa, ikan woku, ayam woku tinorangsak, ayam rica, dan lain sebagainya. Cita rasanya yang pedas serta bumbu-bumbu rempahnya yang melimpah membuat masakan Manado memiliki ciri khas tersendiri dibanding masakan Indonesia lainnya. Di Indonesia sendiri menurut penulis hampir semua masyarakatnya familiar ataupun suka dengan masakan pedas, selain kota Manado, kota-kota di daerah Pulau Sumatera juga terkenal dengan masakan yang pedas, pedas di sini tidak hanya dari cabai namun juga dari rempah-rempahnya. namun bagaimana sejarahnya kalau masakan Manado itu terkenal dengan masakan yang pedas?

Makanan menurut suku Minahasa adalah salah satu aspek yang mendasar dalam kehidupan karena selalu disantap setiap harinya. Oleh karena itu, jika mereka sudah membiasakan diri dengan makanan-makanan yang citarasanya pedas, maka diharapkan para keturunan mereka dapat berlatih soal toleransi terhadap rasa sakit yang lainnya. Filosofi tersebut tampaknya sangat berpengaruh hingga sekarang, karena masyarakat Manado sudah tak asing lagi dengan masakan yang bercita rasa pedas sehingga pedasnya masakan dari daerah Indonesia lainnya memang tak ada yang bisa menandingi rasa pedas dari masakan Manado. Kesimpulan dari pernyataan tersebut adalah masyarakat Manado sudah terlatih apabila menghadapi masakan Indonesia daerah lain yang juga pedas, ditambah kuatnya filosofi budaya masyarakat Manado yang dimana rasa pedas adalah bentuk toleransi dari rasa sakit lainnya, menarik sekali!. (Sumber)

2. Opini Kedua

Dalam khazanah kuliner Minahasa, pisang gorengpun harus dimakan menggunakan cocolan sambal yang dikenal dengan nama “Sambal Bakasang”. Namun sekalipun masakan Manado memang terkenal pedas, tetapi hal ini sepertinya tidak sekonyong-konyong merepresentasikan bahwa orang-orang Manado juga orang yang perilakunya “pedas” dan omongannya juga “pedas.” jadi bisa disimpulkan bahwa apapun makanannya harus di campur dengan sesuatu yang pedas. memang istimewa sekali masyarakat manado ini. Tidak sampai disini, penulis mengutip cerita yang ditulis di salah satu blog tentang pengalamannya yaitu:

Saya teringat testimoni ibu saya sendiri yang bukan seorang yang berasal dari Sulawesi Utara, saat berkunjung ke negeri nyiur melambai ini. Segera setelah kembali dari Manado, beliau langsung berkata kalau dia akan menghabiskan masa pensiunnya di Manado. Saya bertanya mengapa dia begitu cepat untuk mau memutuskan menikmati masa pensiunnya di Manado. Segera ibu saya berkata, dia sangat terkesan dengan kehangatan dan rasa persahabatan yang diberikan kepadanya selama ia berkeliling ke Manado dan sekitarnya. Saat itu, dia tinggal bersama seorang sahabat baiknya di sebuah daerah di Sulawesi Utara bernama Airmadidi. Setiap pagi menurut ibu saya, orang-orang disekitar rumah tidak pernah lupa untuk menyapa beliau dengan hangat. Mereka yang menyapa inipun adalah orang-orang yang tidak dia kenal sama sekali. Ibu saya benar-benar merasa kehangatan yang tulus dan rasa persaudaraan yang kental selama ia berada di Manado. Sampai-sampai, dia dengan tanpa ragu mengambil niat untuk bermigrasi ke Manado.

Cerita yg penulis kutip sebelumnya memiliki kaitan dengan masakan Manado yang rata-rata terkenal dengan kepedasannya, walaupun pedas bisa dianalogikan dengan kasar, berani, tangguh, tahan banting namun pedas juga bisa membuat manusia menjadi toleran dengan yang lainnya, pedas jg menjadi rasa yang mempersatukan masyarakat Manado. Sama pedas, sama rasa, sama rata, mungkin itulah bahasa yang mudah dimengerti.

3. Opini Ketiga

Penulis mengutip artikel yang menarik juga tentang mengapa masakan Manado memiliki rasa yang Pedas.

Di Manado ada jargon ‘nimbole makan kalo nda ada rica’ yang berarti tidak bisa makan tanpa cabai rawit. Karena itu, enggak heran jika warga Manado mayoritas selalu mengonsumsi makanan dengan cabai rawit sebagai bumbu utamanya. Rasa pedas dari makanan seolah jadi hal wajib di Manado. Bahkan, jangan heran ya jika melihat orang Manado menyantap pisang goreng atau singkong rebus sekalipun memakai sambal rica-rica. Di balik makanan pedas itu, ternyata ada nilai filosofisnya loh TemanBaik. Jadi, pedas itu bukan semata-mata untuk menggugah selera dan kenikmatan lidah. Dalam sejarahnya, masyarakat Manado merupakan keturunan dari suku Minahasa yang memiliki filosofi hidup cukup unik, terutama pada hal-hal menyakitkan seperti menyantap sajian makanan bercita rasa pedas. Rasa sakit dan enggak nyaman yang timbul di lidah itu mengajarkan masyarakat Manado untuk hidup bertoleransi. Kuncinya, masyarakat Manado seolah diajarkan untuk tangguh dalam menghadapi sesuatu yang meyakitkan. Wah, sedalam itu ya ternyata filosofinya. (Sumber)
Sepertinya masakan pedas memang menjadi simbol toleransi masyarakat Manado, beberapa artikel yang penulis dapatkan adalah mengapa alasan masakan Manado memiliki rasa yang pedas adalah simbol toleransi. Kamu tertarik ingin mencicip masakan Manado?
Share This Article: